You are currently viewing Minyak Jelantah untuk Menyerap Limbah Zat Warna

Minyak Jelantah untuk Menyerap Limbah Zat Warna

Minyak goreng bekas rupanya mampu menjadi media membran cair untuk mengurangi limbah pewarna seperti rhodamin b yang mencemari lingkungan.

Sebagian orang mungkin menganggap minyak jelantah termasuk limbah dapur yang tidak bermanfaat dan hanya dibuang percuma. Namun, di mata sejumlah peneliti, minyak ini menjadi objek penelitian yang menarik.

Minyak jelantah adalah minyak goreng bekas yang sudah tidak layak dikonsumsi. Minyak ini merupakan jenis limbah rumah tangga yang jamak ditemukan di Indonesia. Mengutip Traction Energy Asia, Indonesia menghasilkan 1,2 juta kiloliter minyak jelantah per tahun dari rumah tangga.

Sebagian pemerhati lingkungan dan pencari peluang bisnis telah memanfaatkan limbah minyak jelantah ini untuk dikonversi menjadi biodiesel.

Di mata Prof. Ir. Herry Purnama, M.T., Ph.D., masih banyak masyarakat masih membuang minyak jelantah tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan. Limbah minyak jelantah seringkali terabaikan dan tidak tertangani secara optimal. Tidak heran jika selama setahun terakhir, ia aktif meneliti pemanfaatan minyak jelantah.

Dosen Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu menjadikan minyak jelantah sebagai media membran cair emulsi yang dapat menyerap pewarna sintetis seperti rhodamin b.
https://drpps.ums.ac.id/wp-content/uploads/18102025-1-berita.webp
Potret Prof.Ir. Herry Purnama, M.T., Ph.D. di Laboratorium Pencegahan Pencemaran Fakultas Teknik UMS. Humas UMS/Imam Safii

Rhodamin b adalah pewarna sintetis yang jamak digunakan pada industri tekstil maupun batik di Indonesia. Salah satunya adalah industri batik di Kampung Batik Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah.

Cemaran limbah zat warna mungkin ditemukan di sekitaran Kali Jenes yang mengalir di selatan Kampung Batik Laweyan. Banyaknya industri batik di kawasan itu membuat Herry memfokuskan penelitiannya pada upaya mengatasi pencemaran lingkungan.

“Industri batik di Solo ini kan banyak. Kita coba concern di situ,” ujarnya saat ditemui pada Sabtu (18/10/2025).

Herry tidak bekerja sendiri dalam risetnya. Ia dibantu dosen Teknik Kimia UMS, yang juga istrinya, Ir. Nur Hidayati, M.T., Ph.D., dan sejumlah mahasiswa sarjana maupun magister Teknik Kimia UMS. Penelitian ini, katanya, membutuhkan aquades, asam klorida atau HCl dengan kemurnian 37 persen, minyak jelantah, rhodamin b, sorbitan monooleat atau Span 80, dan asam di(2-etilheksil)fosfat atau D2EHPA.

Herry menjelaskan HCl berfungsi menangkap zat pewarna sintetis rhodamin b. HCl sering disebut sebagai fase internal. Sedangkan rhodamin b adalah fase eksternal.

Sementara kombinasi minyak jelantah dan Span 80 akan menghasilkan membran emulsi cair (emulsion liquid membrane/ELM). ELM memiliki nama lain fase membran. “Kalau D2EHPA akan berfungsi sebagai agen ekstraksi,” ujar dosen yang menamatkan gelar doktornya dari Newcastle University, Inggris, itu.

Dua buah botol reagen berukuran kecil (kiri) dan sedang (kanan). Botol berukuran kecil berisi membran cair yang menangkap rhodamin b. Botol berukuran sedang berisi air hasil penyaringan. Humas UMS/Imam Safii

Cara Kerja Membran
Cara kerja membran minyak jelantah cukup sederhana. Rhodamin b dalam air akan menembus lapisan membran dari minyak jelantah dan berpindah ke fase internal. HCl akan menangkap rhodamin b dan membuat air menjadi lebih bersih dan jernih.

“Membrannya kayak saringan. Jadi kita mengalirkan cairan ke membran. Otomatis zat yang besar akan tertahan. Ini karena sifat emulsi tadi, jadi rhodamin b-nya diikat oleh emulsinya itu,” ucapnya.

Percobaan dilakukan dengan meneteskan perlahan larutan yang mengandung rhodamin b ke dalam emulsi minyak jelantah. Kemudian Herry melakukan pengadukan selama 7 menit dengan kecepatan pengadukan 200 rpm.

Herry kemudian mendiamkan campuran tersebut selama 50 menit. Selama itu, emulsi minyak jelantah akan menyerap kandungan rhodamin b dalam air. Emulsi kemudian bergerak ke bagian atas permukaan air. Meninggalkan air di bagian bawah yang terlihat lebih jernih.

Ia melakukan sejumlah percobaan dengan konsentrasi bahan yang berbeda. Hasilnya, dengan konsentrasi Span 80 sebanyak 1 persen berat per volume dan konsentrasi HCl 0,1 Molaritas, persentase ekstraksi rhodamin b berhasil mencapai 88,79 persen.

Penelitian tersebut kemudian ia tuangkan dalam artikel bertajuk “Liquid Waste Treatment Containing Rhodamine B Using Emulsion Liquid Membrane from Waste Cooking Oil”. Herry menyebut artikel itu terbit pada Maret 2025 lalu pada jurnal Results in Engineering (by Science Direct).

Perlu Pengujian Lanjutan
Di Laboratorium Pencegahan Pencemaran Fakultas Teknik UMS, Herry menunjukkan dua botol reagen berukuran kecil dan sedang. Masing-masing berisi cairan bercorak merah jambu. Perbedaannya terlihat pada kepekatannya.

“Botol kecil ini fase emulsi, kalau yang botol sedang ini air hasil penyaringan,” ujar Wakil Dekan IV Fakultas Teknik UMS itu.

Meski cairan di botol sedang relatif lebih jernih, Herry menuturkan hasil tersebut belum 100 persen sempurna. Ia menekankan penelitian lebih lanjut agar hasil zat pewarna sintetis dapat tersaring sempurna.

Penelitiannya seputar pemanfaatan minyak jelantah untuk mengurangi limbah rhodamin b berhasil mendapatkan hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kendati penelitiannya membuktikan bahwa emulsi minyak jelantah mampu menangkap zat warna, Herry tak mau berpuas diri. Ia meyakini upaya mengatasi limbah tidak cukup ditangani oleh satu rumpun keilmuan. Perlu sinergi yang kuat dengan melibatkan rumpun studi lain di luar teknik kimia, seperti teknik industri, teknik mesin, teknik sipil, teknik lingkungan, bahkan bidang sosial.

Herry optimis kolaborasi yang kuat akan mampu menghasilkan jalan keluar untuk memecahkan persoalan lingkungan akibat limbah. “(Penanganan limbah) tidak bisa diterapkan sepenuhnya pakai proses ini satu-satunya. Tidak bisa. Jadi harus kita gabung dengan proses yang lain agar pengolahan limbah itu berjalan optimal,” tutur dia.

Herry pun mengajukan penelitian ELM-nya itu sebagai syarat khusus untuk menjadi guru besar. Pada 28 Agustus 2025 lalu, Herry menyandang gelar baru: Guru Besar bidang Teknologi Bersih dan Pengolahan Limbah.

Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Publikasi Artikel: https://doi.org/10.1016/j.rineng.2025.104066
Sumber: https://www.ums.ac.id/berita/penelitian/minyak-jelantah-untuk-menyerap-limbah-zat-warna